Baiklah, ini dia kisah dracin dengan nuansa takdir, reinkarnasi, dan dendam yang dibalut keheningan, berjudul "Takhta yang Menyimpan Nama yang Sama": **Takhta yang Menyimpan Nama yang Sama** Seratus tahun adalah waktu yang *panjang*. Seratus tahun adalah waktu yang cukup untuk bunga teratai mekar dan layu seratus kali, untuk debu menutupi seluruh kerajaan, untuk nama yang diagungkan dilupakan oleh sejarah. Namun, takdir, seperti akar pohon beringin, menjalar jauh ke dalam tanah, menghubungkan masa lalu dan masa depan. Jiang Yue, putri bungsu Jenderal Besar Jiang, lahir dengan tanda lahir berbentuk kelopak teratai di bahunya. Tanda yang sama persis dengan yang dimiliki oleh *Ratu Lian*, seratus tahun lalu, ratu yang mati tragis di malam penobatan kaisar. Semua orang berbisik, "Dia reinkarnasi sang ratu." Jiang Yue tidak peduli. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di perpustakaan, tenggelam dalam gulungan-gulungan kuno, mencari tahu rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik aksara. Di sisi lain, Pangeran Mahkota Li Wei, penerus takhta, dihantui mimpi-mimpi aneh. Mimpi tentang taman bunga teratai yang berlumuran darah, tentang suara seorang wanita yang memanggil namanya dengan penuh kesedihan. Suara itu… terlalu *familiar*. Ia merasa pernah mendengar suara itu, bukan di kehidupan ini. Pertemuan pertama mereka terjadi di tengah badai salju. Jiang Yue tersesat di hutan terlarang, mencari tanaman obat langka untuk ibunya yang sakit. Li Wei, yang sedang berburu, menemukannya tergeletak tak sadarkan diri. Saat ia menggendong Jiang Yue kembali ke istana, ia merasakan sentuhan yang aneh, seperti *deja vu*. Aroma melati dari rambutnya… aroma yang sama dengan melati yang ditanam di taman Ratu Lian. Sejak saat itu, takdir mulai merajut benang-benangnya. Mereka berdua tertarik satu sama lain, bukan hanya karena rasa kagum dan hormat, tapi juga karena sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang terpendam dari masa lalu. Jiang Yue mulai mengingat fragmen-fragmen kehidupan Ratu Lian. Kekejaman istana, intrik para selir, dan pengkhianatan… terutama pengkhianatan *kekasihnya*, kaisar yang kemudian menjadi pembunuhnya. Ia melihatnya dalam mimpi, ***JELAS***! Li Wei, di sisi lain, menemukan sebuah kotak musik kuno di ruang rahasia istana. Kotak musik itu memainkan melodi yang sama dengan yang didengarnya dalam mimpi. Melodi itu milik Ratu Lian, ciptaannya untuk sang kekasih. Di dalam kotak itu, ia menemukan sebuah surat, ditulis dengan tinta yang hampir pudar: *"Untuk kaisarku, belahan jiwaku. Jika kau membaca surat ini, berarti aku telah tiada. Aku memaafkanmu, meski kau memilih takhta daripada cintaku. Semoga takhta yang kau raih memberimu kebahagiaan. Aku hanya berharap, di kehidupan selanjutnya, kita bisa bertemu lagi, bukan sebagai raja dan ratu, tapi sebagai dua jiwa yang merdeka."* Li Wei terkejut! Ternyata, *ia* adalah reinkarnasi dari kaisar yang telah mengkhianati Ratu Lian. Rasa bersalah menghantuinya. Ia tahu, ia harus menebus dosa-dosanya. Tapi bagaimana? Jiang Yue, dengan ingatan masa lalunya yang semakin lengkap, kini memiliki tujuan. Bukan dendam berdarah, bukan pembantaian istana. Ia ingin membalas dendam dengan *keheningan*, dengan *pengampunan*. Ia akan membiarkan Li Wei menyadari sendiri betapa beratnya dosa yang telah diperbuatnya. Ia menolak cintanya. Ia menolak kekuasaannya. Ia hanya ingin hidup tenang, menjauh dari hingar bingar istana. Li Wei, yang hancur karena penolakan Jiang Yue, akhirnya memahami. Ia telah kehilangan segalanya, bukan karena Jiang Yue membencinya, tapi karena ia *tahu* ia tidak pantas dicintai. Di akhir cerita, Jiang Yue meninggalkan istana, menuju ke sebuah desa terpencil di tepi danau. Li Wei, yang kini menjadi kaisar yang bijaksana dan adil, sering mengunjunginya secara diam-diam. Mereka tidak pernah berbicara tentang masa lalu, tapi mata mereka berbicara segalanya. Suatu sore, saat matahari terbenam, Jiang Yue menatap danau yang tenang. Li Wei berdiri di belakangnya, tanpa suara. "...*Janji teratai di malam penobatan...*" Kalimat itu menggantung di udara, seperti bisikan dari kehidupan sebelumnya.
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Digigit Burung Ciblek

Share on Facebook