**Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Hujan berbisik lirih di atas nisan-nisan usang. Setiap tetes adalah air mata yang tak tertumpahkan, membasahi tanah yang menyimpan rahasia. Di antara barisan batu nisan yang dingin, berdirilah dia, Lin Wei. Bukan lagi seorang manusia bernapas, melainkan *roh* yang terikat pada dunia yang ditinggalkannya. Dunia arwah baginya adalah **senja abadi**, sebuah peralihan yang tak pernah benar-benar gelap. Ia bisa melihat, mendengar, merasakan, tapi tak mampu menyentuh. Setiap langkahnya bagaikan bayangan yang menolak pergi, terperangkap di antara dua alam. Dulu, sebelum kematian menjemputnya di tikungan jalan yang kejam, ia adalah Lin Wei yang penuh tawa. Seorang pelukis muda dengan mimpi yang melambung tinggi. Namun, takdir punya rencana lain. Ia pergi sebelum sempat mengucapkan tiga kata yang terpatri di hatinya, kebenaran yang akan membebaskan jiwanya. Ia kembali, bukan untuk membalas dendam pada pengemudi mabuk yang merenggut nyawanya. Dendam adalah racun yang akan mengikatnya lebih erat pada dunia fana. Ia kembali untuk **membereskan** apa yang tertinggal, untuk mengucapkan apa yang tak sempat diucapkan. Malam demi malam, ia mengikuti kekasihnya, Mei Lan. Menyaksikan Mei Lan meratapi kehilangannya, menghidupkan kembali kenangan mereka di kanvas yang sama, namun dengan warna yang lebih kelam. Hatinya berdenyut nyeri, melihat kesedihan yang mendalam itu. Ia ingin memeluknya, menghapus air matanya, tapi sentuhan roh adalah hembusan angin dingin yang tak berarti. Ia mencoba berkomunikasi, berteriak dengan suara sunyi yang hanya bisa didengar oleh dunia roh. Ia menulis kata-kata di udara dengan jarinya yang transparan, berharap Mei Lan melihatnya, mendengarkannya. Namun, semua sia-sia. Mei Lan hanya bisa merasakan kehadiran yang *aneh*, getaran tak kasat mata yang membuatnya merinding. Akhirnya, ia menemukan cara. Melalui mimpi. Ia memasuki mimpi Mei Lan, membawanya kembali ke taman tempat mereka pertama kali bertemu, ke bawah pohon sakura yang dulu menjadi saksi bisu janji-janji mereka. Di sana, di dalam mimpi itu, ia berbisik, "Aku... mencintaimu..." Mei Lan terbangun dengan air mata membasahi pipi. Ia merasa *berbeda*. Sebuah beban telah terangkat dari hatinya, sebuah kepastian telah menemukan jalannya. Ia tahu, Lin Wei telah mengatakannya. Namun, ada satu hal lagi yang harus diselesaikan. Sebuah surat yang belum sempat ia kirimkan kepada ibunya. Surat yang berisi permohonan maaf atas semua kekurangannya, surat yang berisi ungkapan cinta yang tulus. Ia membimbing tangan Mei Lan dalam mimpinya, mengarahkan penanya untuk menuliskan kata-kata yang terucap dari hatinya yang paling dalam. Keesokan harinya, Mei Lan mengirimkan surat itu. Lin Wei, di ambang pintu antara dunia hidup dan arwah, merasakan kedamaian menyelimutinya. Beban yang selama ini membelenggu jiwanya perlahan terlepas. Ia telah menuntaskan janjinya, bukan janji untuk membalas dendam, melainkan janji untuk mencintai dan memohon maaf. Hujan di atas makam semakin reda. Bayangan Lin Wei mulai memudar, larut dalam cahaya senja yang semakin menipis. Tugasnya telah selesai. …Dan bibirnya sedikit terangkat, seolah ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya.
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Diserang

Share on Facebook