Baiklah, inilah cerita pendek bergaya dracin dengan sentuhan lirih, penyesalan, dan misteri, dalam bahasa Indonesia: **Kau Tersenyum di Balkon Istana, Tapi Matamu Menyembunyikan Duka** Bulan pucat menggantung di atas Istana Timur, menyinari sosok Putri Lian yang berdiri di balkon. Gaun sutra *zamrud*nya berkilauan, seolah menampung serpihan cahaya rembulan. Bibirnya mengulas senyum tipis, anggun dan menawan. Namun, di balik senyum itu, mata Putri Lian, mata yang seharusnya penuh semangat dan kebahagiaan, kini memancarkan kesedihan yang **mendalam**. Seperti alunan *guqin* di tengah malam, sunyi dan pilu. Lima tahun lalu, Putri Lian, gadis ceria yang gemar berlari di taman istana, menyerahkan hatinya pada Jenderal Wei, pahlawan perang yang gagah berani. Mereka berjanji setia di bawah pohon *sakura* yang sedang bermekaran. Namun, takdir, sepertinya, memiliki rencana lain. Jenderal Wei menikahi Putri Meiling, adik tiri Putri Lian yang licik dan ambisius. Alasan pernikahan itu tak pernah diungkapkan secara gamblang. Ada bisik-bisik tentang ancaman dari kerajaan musuh, tentang perjanjian rahasia, tentang *hutang budi* yang harus dibayar. Putri Lian memilih diam. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia menyimpan sebuah **RAHASIA**, sebuah fakta yang jika terungkap, bisa mengguncang seluruh kerajaan. Setiap malam, Putri Lian akan berdiri di balkon, memandangi bintang-bintang. Ia tidak menangis, tidak juga meratapi nasib. Ia hanya diam, menyimpan semua luka di dalam hatinya. Rakyat melihatnya sebagai putri yang tegar, yang rela berkorban demi kedamaian kerajaan. Namun, tak ada yang tahu bahwa di balik ketegarannya, ia tengah merencanakan sesuatu. Bukan balas dendam yang keji, melainkan sebuah *pembalikan takdir* yang halus dan tak terduga. Misteri semakin menguat ketika Jenderal Wei tiba-tiba jatuh sakit. Dokter kerajaan tak mampu mendiagnosis penyakitnya. Putri Meiling, dengan air mata buaya, memohon bantuan dari semua orang. Putri Lian, dengan tenang, menawarkan diri untuk merawat Jenderal Wei. Ia menyiapkan ramuan herbal, membaca mantra-mantra kuno, dan menghabiskan waktu berjam-jam di sisi ranjang sang jenderal. Namun, alih-alih menyembuhkan, kondisi Jenderal Wei justru semakin memburuk. Hingga suatu malam, ia memanggil Putri Lian ke kamarnya. Dengan suara terbata-bata, ia mengakui *dosanya*. Ia menikahi Putri Meiling karena ia diancam akan membongkar rahasia Putri Lian: bahwa ia adalah anak haram dari mendiang Kaisar. Rahasia yang selama ini ia lindungi dengan sekuat tenaga. Putri Lian tersenyum. Ia memegang tangan Jenderal Wei yang dingin. "Aku tahu," bisiknya. "Aku selalu tahu." Ternyata, ramuan herbal yang diberikan Putri Lian bukanlah obat, melainkan racun yang bekerja secara perlahan. Bukan racun biasa, melainkan *racun kebenaran*. Sebelum meninggal, Jenderal Wei akan dipaksa untuk mengakui semua dosanya. Dan setelah itu... takdir akan menimpa Putri Meiling. Kematian Jenderal Wei menggemparkan istana. Putri Meiling, yang tak mampu menyembunyikan kegembiraannya, segera dinobatkan sebagai *penguasa* Istana Timur. Namun, kegembiraannya tak bertahan lama. Beberapa bulan kemudian, skandal besar terungkap. Putri Meiling terbukti melakukan korupsi, memanipulasi pajak, dan bersekongkol dengan pedagang asing untuk memperkaya diri sendiri. Ia dijatuhi hukuman **MATI**. Putri Lian kembali berdiri di balkon, menatap bulan. Ia tidak merasakan kebahagiaan, tidak juga penyesalan. Ia hanya merasa lelah. Ia telah membalas dendam, tanpa kekerasan, hanya dengan membiarkan takdir berjalan dengan semestinya. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam istana, meninggalkan balkon yang dingin dan sepi. Dan di langit yang gelap, bintang-bintang terus bersinar, menyimpan semua rahasia yang tak pernah terungkapkan… Ia menghela napas, mengetahui bahwa suatu hari, kebenaran yang sesungguhnya akan terungkap, dan saat itulah... *semuanya* akan berubah.
You Might Also Like: Dracin Seru Kau Menatapku Di Tengah
Share on Facebook