Oke, ini dia kisah pendek yang kamu minta, terinspirasi dari dracin dengan tema serupa, dengan bumbu-bumbu emosi dan plot twist: **Foto yang Terhapus, Dendam yang Mengakar** Hujan menggigil di luar jendela, serupa dengan dingin yang merayapi hatiku setiap kali aku melihat wajahnya. *Zhang Wei*. Dulu, nama itu melukis senyum di bibirku. Sekarang, ia bagai duri yang tertancap dalam. Lima tahun. Lima tahun sejak ia menikamku dengan pengkhianatan yang begitu keji. Foto-foto lama bertebaran di layar laptop. Foto-foto itu… aku kira sudah kuhapus semuanya. Bodohnya aku, lupa pada *awan*. Di sana, kenangan itu tersimpan rapi, abadi seperti *kutukan*. Zhang Wei, tersenyum padaku, menggenggam tanganku, berjanji setia di bawah cahaya lentera yang kini terasa begitu *palsu*. Lentera yang dulu menerangi cinta kami, kini nyaris padam, menyisakan asap pahit penyesalan. Bayanganku patah di cermin. Aku bukan lagi gadis yang dulu. Cinta telah menggerogoti jiwaku, meninggalkan rongga gelap yang dipenuhi *dendam*. Dulu, aku percaya padanya. Dulu, aku menyerahkan segalanya padanya. Dulu, aku *mencintainya*. Sekarang… aku hanya ingin ia merasakan apa yang kurasakan. *Sakit*. Aku bangkit, meraih cangkir teh hijau yang sudah dingin. Ingatanku melayang pada percakapan kami dulu, di kedai teh favorit kami, di bawah pohon sakura yang kini tinggal kenangan. Ia berjanji, takkan pernah meninggalkanku. *PEMBOHONG*. Telepon berdering. Itu dia. "Wei?" Suaranya, meski terdengar khawatir, tak mampu menutupi rasa bersalah yang terpancar. "Lin Mei… aku… aku merindukanmu." Aku tertawa hampa. "Merindukanku? Setelah apa yang kau lakukan? Setelah kau menghancurkan hidupku?" "Aku tahu… aku tahu aku salah. Tapi kumohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan." Aku terdiam sejenak, menatap pantulan diriku di jendela. Kilat petir menerangi wajahku, memperlihatkan senyum sinis yang perlahan merekah. "Kesempatan? Tentu saja. Datanglah ke tempat kita bertemu pertama kali. Besok. Tengah malam." Aku menutup telepon. Besok, Zhang Wei akan mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan. Ia akan merasakan kepedihan yang sama. Ia akan kehilangan segalanya. Selama ini, ia mengira aku hanya korban yang meratapi nasib. Ia salah. *Sangat* salah. Aku tidak hanya meratapi nasib. Aku juga *merencanakan*. Rencanaku berjalan sempurna. Semua bidak sudah terpasang. Aku mengusap layar laptop, menatap foto terakhir. Sebuah foto yang diambil tepat sebelum ia menghancurkan hatiku. Aku tersenyum. _Ternyata, bukan hanya foto-foto ini yang ku-backup di awan… tapi juga *identitas*ku yang sebenarnya._
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Usaha
Share on Facebook