Baik, ini dia kisah dracin berjudul 'Bayangan yang Mencintai Musuh Lama' dengan nuansa yang Anda inginkan: **Bayangan yang Mencintai Musuh Lama** Hujan berbisik di atas gundukan tanah merah. Bukan sekadar air yang jatuh, melainkan air mata langit yang tak pernah kering. Di antara nisan-nisan yang bisu, berdiri Li Wei, bukan lagi dalam wujud manusia. Ia hanyalah _bayangan_, selubung kabut yang terikat pada dunia yang telah ia tinggalkan. Dulu, ia adalah seorang jenderal muda, gagah berani, dengan dendam yang membara di dada. *Dendam* pada Lin Feng, musuh bebuyutannya, yang telah merebut segalanya: kehormatan, keluarga, bahkan cinta pertama. Li Wei mati di medan perang, tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun tentang kebenaran yang menggorogoti hatinya. Sekarang, ia kembali, bukan untuk membalas dendam, tapi… untuk apa? Dunia arwah adalah cermin buram dari dunia manusia. Sunyi senyap, namun dipenuhi _gema_ masa lalu. Li Wei mengembara, mencari sosok Lin Feng. Ia melihat Lin Feng dari kejauhan, sosok yang kini tampak menua, bahunya memikul beban tanggung jawab seorang pemimpin. Ia melihat kesedihan yang tersembunyi di balik mata tajam itu. Setiap malam, Li Wei mengunjungi makamnya sendiri. Bayangannya menari-nari di antara tetesan hujan, mencoba menyampaikan sesuatu yang tak terkatakan. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan kesunyian, tapi suaranya telah lama lenyap, terhisap oleh kematian. Suatu malam, Lin Feng datang ke makam. Ia berlutut di depan nisan Li Wei, lalu mengucapkan kata-kata yang membuat hati Li Wei remuk redam. "Aku… aku tahu kau tidak bersalah. Aku tahu kebenaran di balik semua ini." Rupanya, ada surat yang Li Wei sembunyikan, surat yang berisi bukti bahwa ia dijebak. Surat itu ditemukan setelah bertahun-tahun. Lin Feng dihantui rasa bersalah. Ia hidup dalam penyesalan yang abadi. Li Wei mendekat, tangannya—yang kini hanyalah kabut—terulur, ingin menyentuh Lin Feng. Tapi ia tidak bisa. Ia hanyalah bayangan, terperangkap di antara dua dunia. Ia mengerti sekarang. Ia tidak pernah menginginkan pembalasan. Yang ia inginkan hanyalah… _pengakuan_. Kedamaian bagi arwahnya yang gelisah. Perlahan, Li Wei mulai memudar. Energinya menipis. Ia telah menyelesaikan urusannya. Tugasnya telah usai. Beban di hatinya terangkat. Angin berhembus lembut, membawa serta sisa-sisa keberadaan Li Wei. Hujan berhenti. Matahari pagi menyinari makam itu, seolah memberikan berkat. Dan seolah ia baru saja tersenyum untuk terakhir kalinya…
You Might Also Like: Dave Ramsey Financial Freedom Cruise
Share on Facebook