Cinta Yang Menjadi Dosa Istana
Bulan sabit membelah langit malam Istana Kumala, persis seperti hati Putri Kirana. Cahaya perak itu jatuh di wajahnya yang pucat, menampakkan lekuk penyesalan yang dalam. Di hadapannya, berdiri Jendral Arjuna, pahlawan kerajaan yang terhormat, sekaligus pria yang terlarang untuknya.
Dulu, saat masih kanak-kanak, Kirana dan Arjuna bermain di bawah pohon sakura yang sama. Janji setia terucap, polos dan lugu, di antara hembusan angin dan kelopak bunga yang berjatuhan. "Kelak, aku akan menjadi jendral terhebat, dan kau, Kirana, akan menjadi ratuku," bisik Arjuna, menggenggam erat tangannya yang mungil.
Namun, takdir punya rencana lain.
Kirana, sebagai putri mahkota, dijodohkan dengan Pangeran Wiratama, pewaris takhta dari kerajaan tetangga. Perkawinan politik demi perdamaian, mengubur dalam-dalam CINTA yang tumbuh subur antara dirinya dan Arjuna.
Malam ini, di taman rahasia yang menjadi saksi bisu masa kecil mereka, Arjuna berdiri dengan pedang terhunus. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk membela Kirana dari ancaman pemberontakan yang dipimpin oleh Pangeran Wiratama yang haus kekuasaan.
"Arjuna, jangan lakukan ini. Ini adalah pengkhianatan," lirih Kirana, suaranya bergetar menahan isak.
Arjuna menggeleng. "Pengkhianatan yang sepadan, Kirana. Aku bersumpah, aku akan melindungi kerajaan ini, dan DIRIMU, meski nyawa taruhannya." Mata Arjuna berkilat, memancarkan cinta dan tekad yang menyakitkan.
Pertempuran singkat namun sengit terjadi. Arjuna, dengan gagah berani, berhasil mengalahkan Wiratama, namun ia terluka parah. Kirana berlari mendekat, memeluk Arjuna yang terkapar di tanah.
"Kau... kau seharusnya tidak..." kata Arjuna, suaranya melemah.
"Aku MENCINTAIMU, Arjuna. Dulu, sekarang, dan selamanya," bisik Kirana, air matanya membasahi wajah Arjuna.
Arjuna tersenyum tipis, lalu menghembuskan napas terakhir di pelukan Kirana. Janji telah dilanggar. Cinta telah menjadi dosa istana. Penyesalan meremukkan hati Kirana menjadi serpihan yang tak mungkin lagi disatukan.
Bertahun-tahun kemudian, Kirana menjadi Ratu Kumala, memerintah dengan bijaksana dan adil. Ia menikah dengan seorang bangsawan yang setia, namun hatinya tetap terkunci untuk Arjuna. Ia membangun kuil megah untuk menghormati Arjuna, pahlawan yang dikhianati, kekasih yang direnggut paksa.
Namun, tak ada yang tahu, jauh di dalam hati Kirana, tumbuh benih DENDAM. Dendam bukan pada Wiratama yang telah mati, bukan pada takdir yang kejam, melainkan pada sistem istana yang korup, yang telah merenggut kebahagiaannya. Ia tahu, perubahan harus terjadi, perlahan tapi pasti.
Lambat laun, Kirana menyingkirkan para pejabat korup, menggantikannya dengan orang-orang yang jujur dan berdedikasi. Ia mengubah undang-undang, memberikan hak yang lebih besar kepada rakyat. Ia menciptakan Kumala yang baru, adil dan makmur.
Perubahannya halus, nyaris tak terlihat. Banyak yang memuji kebijaksanaannya, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang diambilnya, setiap kebijakan yang dijalankannya, adalah bentuk BALAS DENDAM yang terencana dengan cermat.
Dendam itu bukan tentang darah dan air mata. Dendam itu tentang membangun kerajaan yang pantas untuk diperintah oleh seorang Arjuna, seorang pahlawan sejati. Dendam itu adalah tentang menciptakan dunia di mana cinta tidak lagi menjadi dosa.
Di usia senjanya, Ratu Kirana menatap langit malam, merasakan hembusan angin yang lembut di wajahnya. Ia tahu, keadilan telah ditegakkan, dengan caranya sendiri.
Apakah cinta itu benar-benar telah mati, ataukah ia hanya bersembunyi di balik tirai dendam yang elegan?
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Dikejar