Absurd tapi Seru: Cinta Yang Mewarisi Kutukan Lama
Kabut ungu senja menyelimuti Danau Bulan Sabit, sama pekatnya dengan penyesalan yang mencengkeram hatiku. Di hadapanku, berdiri Jing Wei, wanita yang ku puja, wanita yang seharusnya menjadi pendamping hidupku, namun kini hanya sisa-sisa dari mimpi yang hancur.
Dulu, di bawah pohon persik yang sama, kami berjanji. Janji untuk mencintai selamanya, janji untuk saling melindungi dari kutukan Keluarga Iblis yang menghantui garis keturunanku. Bodohnya aku! Terlalu yakin dengan kekuatanku, terlalu sombong untuk menerima kenyataan bahwa takdir Keluarga Iblis TAK bisa dilawan.
"Xing He," bisiknya, suaranya serak diterpa angin malam. "Kenapa... kenapa kau lakukan ini?"
Matanya, dulu binar-binar penuh cinta, kini hanya memancarkan kekecewaan mendalam. Aku ingin memeluknya, mendekapnya erat, membisikkan kata maaf yang takkan pernah cukup. Tapi aku tak bisa. Tanganku terikat oleh rantai takdir, tubuhku dikendalikan oleh kutukan yang semakin menggerogoti jiwaku.
Aku telah menikahi Putri Lan, pewaris Klan Naga, bukan karena cinta, tapi karena kewajiban. Sebuah pernikahan politik yang dipaksakan untuk meredakan perang yang berkobar antara Klan Iblis dan Klan Naga. Sebuah pengorbanan yang kuharap bisa melindungi Jing Wei dari murka kedua klan.
"Aku... aku melakukan ini untuk melindungimu," jawabku, suaraku bergetar. Kebohongan! Bahkan aku sendiri tak mempercayainya. Aku melindunginya dengan menghancurkan hatinya.
Jing Wei tertawa hampa, sebuah suara yang menyayat kalbuku lebih dalam dari pedang mana pun. "Melindungiku? Dengan menikahi wanita lain? Dengan meninggalkan aku di tengah badai?"
Setetes air mata lolos dari sudut matanya. Cahaya bulan memantul di sana, membuatnya terlihat rapuh, hancur. Aku ingin berlutut di hadapannya, memohon ampun, tapi kutukan itu mencegahku. Aku TERJEBAK dalam tubuh ini, menyaksikan kehancuran yang kuciptakan sendiri.
"Maafkan aku," hanya itu yang bisa kuucap. Kata maaf yang terlambat, kata maaf yang tak berarti.
Jing Wei mengangkat kepalanya, menatapku dengan tatapan sedingin es. "Maafmu... sudah tidak berarti apa-apa."
Kemudian, dia berbalik, berjalan menjauh menuju kegelapan. Langkahnya ringan namun pasti, meninggalkan aku terhuyung di bawah pohon persik yang kini terasa hampa.
Aku tahu, dalam hatiku yang paling dalam, bahwa ini belum berakhir. Keluarga Jing, yang dikenal dengan kesetiaannya pada keadilan dan kemampuan mereka membaca takdir, tidak akan membiarkan ini begitu saja. Mereka akan menuntut balas, bukan dengan pedang atau sihir, tetapi dengan cara yang lebih halus, lebih mematikan.
Bertahun-tahun kemudian, Putri Lan meninggal dalam keadaan yang misterius, tepat setelah melahirkan putra mahkota. Klan Naga, dilanda kesedihan dan kebingungan, mulai mencurigai satu sama lain. Perpecahan mulai merayap di antara mereka, mengancam aliansi yang rapuh dengan Klan Iblis.
Aku tahu siapa dalang di balik semua ini. Jing Wei tidak menyerangku secara langsung, dia tidak melampiaskan dendamnya kepadaku. Dia meruntuhkan duniaku, perlahan tapi pasti, MENYERANG apa yang paling berharga bagiku: masa depanku, warisanku, kedamaian.
Keadilan telah ditegakkan, bukan atas nama cinta, tapi atas nama hati yang hancur.
Apakah ini akhir dari kutukan lama, atau justru awal dari dendam abadi?
You Might Also Like: Arti Mimpi Disengat Kadal Pasir Simak