Dracin Terbaru: Tangisan Yang Tertahan Di Balik Doa
Hujan membasahi kota Nanling, persis seperti air mata yang menetes di pipi Lian. Di paviliun tua itu, tempat dulu mereka berjanji setia di bawah rembulan, kini hanya ada gema kenangan pahit. Di depannya, berdiri Jing Wei, pria yang dulu adalah dunianya, kini hanya siluet buram di tengah badai.
"Lian..." bisiknya, suaranya serak tertelan angin. "Maafkan aku."
Maaf? Kata itu bagai belati berkarat yang ditusukkan berulang kali ke hatinya. Lima tahun. Lima tahun ia menunggu, menyulam mimpi pernikahan, menanam harapan di tanah yang ternyata tandus. Lima tahun ia menanggung malu dan hina, ketika Jing Wei menikahi putri Jenderal Zhang, demi ambisi dan kekuasaan.
Lian mendongak, tatapannya dingin membeku. "Dulu, di sini, kau berjanji akan selamanya bersamaku. Kau berjanji, Jing Wei." Setiap kata adalah duri yang menyayat lidahnya.
Jing Wei menunduk. "Aku…aku tidak punya pilihan."
Tidak punya pilihan? Kalimat itu adalah penghinaan terakhir. Pilihan selalu ada. Ia yang memilih untuk mengkhianati, ia yang memilih untuk melupakan.
"Kau telah menukar cintaku dengan ambisimu, Jing Wei," lirih Lian. "Dan harga yang harus kau bayar… TERLALU MAHAL."
Ia ingat malam itu, ketika ia mendengar rencana Jenderal Zhang untuk memberontak. Ia ingat, bagaimana ia, dengan hati hancur, melaporkan rencana itu kepada Kaisar. Ia ingat, bagaimana istana bergejolak, Jenderal Zhang dihukum mati, dan Jing Wei kehilangan segalanya. Kekuasaan, ambisi, bahkan kehormatannya.
Kini, Jing Wei berdiri di hadapannya, bukan sebagai Jenderal gagah perkasa, melainkan pria yang hancur dan kalah. Ia kehilangan segalanya, persis seperti Lian dulu.
Lian tersenyum pahit. "Kau tahu, Jing Wei? Aku berdoa setiap malam agar kau bahagia. Sungguh."
Dan Tuhan mendengar doanya. Tuhan mengabulkannya dengan cara yang PALING PEDIH.
Badai semakin menggila. Lian berbalik, meninggalkan Jing Wei berdiri terpaku di tengah hujan. Ia tahu, hidup Jing Wei akan menjadi neraka dunia. Ia tahu, setiap kali Jing Wei melihat bulan purnama, ia akan teringat pada janjinya, pada cintanya yang dikhianati, pada penyesalan yang tak berujung.
Ia tidak membalas dendam. Ia hanya berdoa. Dan takdir, dengan caranya yang KEJAM, telah menuntut keadilan.
Cinta yang mati akan melahirkan hantu, dan hantu itu akan menghantui selamanya, atau justru... membebaskan?
You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama