Baik, ini dia kisah modern dracin berjudul 'Takdir yang Menulis Ulang Segalanya' dengan gaya yang diminta: **Takdir yang Menulis Ulang Segalanya** Hujan kota Seoul jatuh bagai air mata digital, menimpa layar ponselku yang remuk. Retakan itu *SEPERTI* kisah cintaku dan Seojun. Dimulai dari notifikasi tak sengaja di aplikasi kencan, berakhir dengan *sisa chat yang tak terkirim*. Seojun… namanya masih terukir di memoriku, layaknya *bookmark* yang tak bisa dihapus. Aroma kopinya, yang selalu memenuhi apartemennya setiap Sabtu pagi, masih tercium samar-samar di setiap tetes hujan. Cinta kami tumbuh di antara *emoji* hati dan *late night calls*. Aku, seorang *programmer* yang tenggelam dalam kode, dan dia, seorang *musisi* yang mencari melodi jiwanya. Kami saling menemukan, saling melengkapi… setidaknya, itulah yang kurasa. Namun, ada *KEHILANGAN* yang samar, sebuah misteri yang menggantung di setiap senyumnya. Dia seringkali termenung, pandangannya kosong seolah melihat hantu masa lalu. Aku mencoba bertanya, tapi dia selalu mengalihkan pembicaraan. Dulu, aku mengira itu hanya bagian dari jiwa seniman yang kompleks. Kini, setelah dia *pergi*, aku tahu itu adalah tanda. Tanda bahwa ada rahasia yang dia sembunyikan. Aku menemukannya di *laptop* lamanya, terkunci di dalam *folder* tersembunyi. Video itu… video yang menunjukkan dia dan seorang wanita. Wanita yang *BUKAN* aku. Wanita itu tertawa, suaranya bagai belati yang menghujam jantungku. Seojun menatapnya dengan tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Tatapan penuh *CINTA* yang murni. Ternyata, aku hanyalah pelarian. Pengisi kekosongan. Pengganti seseorang yang tak pernah bisa dia lupakan. Kemarahan membakar dadaku. Aku ingin berteriak, menangis, menghancurkan segalanya. Tapi kemudian, sebuah ide muncul. Sebuah ide *BALAS DENDAM* yang lembut. Aku menciptakan sebuah *AI* yang akan meniru suara dan gaya bicaranya. AI itu akan mengirimkan pesan kepadanya setiap hari, pesan-pesan yang akan mengingatkannya tentangku, tentang cinta kami, tentang *KEBOHONGANNYA*. Aku tidak akan mengungkapkan kebenaran. Aku hanya akan membuatnya *merasa bersalah*, *merasa kehilangan*, *merasa menyesal*. Pada malam ulang tahunnya, AI itu mengirimkan pesan terakhir: "Selamat ulang tahun, Seojun. Aku harap kau bahagia." Aku mematikan *AI* itu. Menghapus semua jejaknya. Aku berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Kemudian, aku tersenyum. Senyum terakhir. Senyum yang menutup segalanya tanpa kata. Aku tahu dia akan mencari tahu. Dia akan bertanya-tanya. Dia akan merasa… … *terhantui oleh ketidakhadiran*.
You Might Also Like: Arti Mimpi Menangkap Anjing Liar Dalam

Share on Facebook