Tentu, ini dia kisah pendek bergaya Dracin yang kamu minta: **Air Mata yang Tak Pernah Diizinkan Jatuh** Lantai marmer istana megah itu dingin, mencerminkan wajah Bai Lian yang pucat. Gaun sutra merahnya, biasanya melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, terasa seperti kain kafan yang membungkus hatinya. Pernikahannya, yang seharusnya menjadi awal dari kehidupan baru, kini terasa seperti akhir dari segalanya. Senyumnya, ***oh, senyum itu!*** Selalu memesona, selalu mampu menaklukkan hati para raja dan jenderal. Tapi malam ini, senyum itu hanya topeng. Topeng yang menyembunyikan **kehancuran**, kehancuran yang disebabkan oleh orang yang seharusnya mencintainya tanpa syarat. Pangeran Zhao, suaminya, pria yang ia puja bagai dewa, telah mengkhianatinya. *Pengkhianatan* itu tersirat dalam bisikan-bisikan di koridor, dalam tatapan kasihan para pelayan, dan akhirnya terkonfirmasi dengan **kabar** – seorang selir baru, seorang gadis desa dengan mata polos yang konon telah merebut hati sang pangeran. Pelukan Zhao, dulu terasa hangat dan aman, kini terasa *beracun*. Janji-janji yang dulu diucapkannya dengan *mata berbinar*, kini bagai belati yang menusuk jantungnya berulang kali. "Aku akan selalu mencintaimu, Lian'er," bisik Zhao dulu. Kini, bisikan itu hanya gema pahit di telinganya. Bai Lian **menolak** untuk menangis. Air mata adalah kelemahan, dan ia *tidak akan* memberikan kepuasan itu kepada Zhao atau selirnya. Ia akan tetap tenang, elegan, seorang ratu yang *bermartabat*, bahkan di tengah badai pengkhianatan. Ia membiarkan upacara pernikahan terus berlanjut, meskipun setiap kata sumpah terasa seperti cemoohan. Ia meminum anggur pernikahan, meskipun setiap teguk terasa seperti racun. Ia menari diiringi musik yang merdu, meskipun setiap langkah terasa seperti siksaan. Lalu, tiba saatnya. Saat Zhao mendekat untuk membuka cadarnya, Bai Lian tersenyum. Senyum yang *berbeda* dari sebelumnya. Senyum yang menyimpan **janji**. "Selamat malam, Pangeran," ucapnya dengan suara yang tenang, namun *menusuk*. "Semoga malam ini menjadi malam yang tak terlupakan." Malam itu, istana tidak banjir darah. Tidak ada jeritan, tidak ada pembunuhan. Bai Lian tidak menggunakan kekerasan. Ia hanya menggunakan *kekuatannya*—kecerdasan, keanggunan, dan pemahamannya tentang politik istana. Ia menanamkan benih keraguan dan intrik di antara para bangsawan, menggunakan pesonanya untuk menggalang dukungan, dan perlahan tapi pasti, *meruntuhkan* kekuasaan Zhao dari dalam. Zhao akhirnya jatuh. Bukan karena pedang, tapi karena penyesalan. Penyesalan karena telah *meremehkan* Bai Lian, penyesalan karena telah *menghancurkan* hati wanita yang begitu mencintainya. Ia menyaksikan kerajaannya hancur, cintanya lenyap, dan hidupnya menjadi neraka yang abadi. Bai Lian menyaksikan semua itu dari kejauhan, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya. Kemenangannya terasa manis, tapi juga pahit. Ia telah membalas dendam, tapi hatinya tetap kosong. Ia telah kehilangan cinta, dan mungkin, ia juga telah kehilangan dirinya sendiri. Ia berjalan menjauh, meninggalkan istana yang penuh dengan intrik dan penyesalan. Langkahnya ringan, namun hatinya berat. Ia tahu, dendam tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh cinta. Di bawah langit malam yang kelam, Bai Lian berhenti dan menatap bintang-bintang. Satu kalimat terngiang di benaknya: *Cinta dan dendam, lahir dari tempat yang sama.*
You Might Also Like: Ini Baru Drama Cinta Yang Menjadi Dosa

Share on Facebook