Baiklah, ini dia kisah *dracin* (drama China) intens yang kamu minta, berjudul 'Pelukan yang Menyisakan Aroma Dendam': **Pelukan yang Menyisakan Aroma Dendam** Malam di Pegunungan Yushan terasa menusuk tulang. Salju turun tanpa ampun, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang menyilaukan. Di tengah hamparan itu, berdiri Paviliun Seribu Bunga, yang kini lebih pantas disebut Paviliun Seribu Duka. Aroma dupa cendana berpadu dengan bau anyir darah, menciptakan perpaduan yang membuat bulu kuduk meremang. Di dalam, Li Wei, sang putri yang dulu dikenal dengan senyumnya secerah mentari, kini hanya menyisakan tatapan sedingin es. Di hadapannya, berlutut seorang pria, Zhou Kai, panglima perang yang dulu dipujanya. Darah menetes dari bibirnya, membasahi salju yang mencair di bawah lututnya. "Li Wei... maafkan aku," bisiknya, suaranya parau. "Maaf? Untuk apa? Membunuh ayahku? Merebut tahtaku? Atau menghancurkan hatiku?" Suara Li Wei setajam belati. Matanya berkilat, memantulkan kobaran api di perapian. "Maafmu tak berarti apa-apa, Zhou Kai. *TIDAK ADA ARTINYA!*" Dulu, mereka saling mencintai. Cinta mereka seindah lukisan musim semi, penuh warna dan harapan. Zhou Kai, seorang yatim piatu yang diangkat menjadi panglima karena keberaniannya, jatuh cinta pada Li Wei, sang putri yang penuh semangat. Mereka berjanji untuk selalu bersama, membangun kerajaan yang makmur dan adil. Janji itu diikrarkan di bawah pohon *mei hua* yang sedang bermekaran, dengan aroma bunga yang memabukkan. Namun, badai politik menerjang. Zhou Kai, karena ambisi dan hasutan dari para penasihat licik, berkhianat. Dia membunuh kaisar, ayah Li Wei, dan merebut tahta. Li Wei menyaksikan semuanya, tersembunyi di balik pilar, hatinya hancur berkeping-keping. Sejak saat itu, Li Wei merencanakan balas dendam. Bertahun-tahun dia hidup dalam persembunyian, mengumpulkan kekuatan dan aliansi. Dia belajar seni bela diri, mengasah pikirannya, dan mengubur semua perasaannya, kecuali satu: *DENDAM*. "Dulu aku percaya padamu, Zhou Kai. Dulu aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri," Li Wei melanjutkan, suaranya bergetar. Dia mendekat, berjongkok di hadapan Zhou Kai. "Tapi kau mengkhianatiku. Kau membunuh hatiku." Zhou Kai mengangkat wajahnya. Matanya dipenuhi penyesalan dan kesedihan. "Aku melakukannya untukmu, Li Wei. Aku ingin melindungimu. Aku..." "CUKUP!" Li Wei memotong perkataannya. Dia mengeluarkan sebilah belati kecil, berlapis racun mematikan. Belati itu berkilauan di bawah cahaya obor. "Ini adalah belati yang diberikan ayahku padaku, sebagai hadiah ulang tahun. Aku akan menggunakannya untuk memberikan hadiah terakhirku padamu." Dengan gerakan cepat, Li Wei menusukkan belati itu ke jantung Zhou Kai. Zhou Kai terkesiap, darah menyembur dari lukanya. Dia menatap Li Wei dengan tatapan yang sulit diartikan. Li Wei memeluk Zhou Kai erat-erat, merasakan napas terakhir pria itu di lehernya. Air mata menetes dari matanya, bercampur dengan darah Zhou Kai. Ini bukan pelukan cinta, ini adalah pelukan *PERPISAHAN*, pelukan yang menyisakan aroma dendam yang tak terhapuskan. Ketika Zhou Kai menghembuskan napas terakhirnya, Li Wei melepaskan pelukannya. Dia berdiri, menatap jasad Zhou Kai dengan tatapan kosong. Balas dendamnya telah selesai. Tapi kemenangan ini terasa pahit dan hampa. Li Wei meninggalkan Paviliun Seribu Bunga, berjalan menembus salju yang dingin. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang dia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia telah mengorbankan segalanya untuk balas dendam. Di belakangnya, Paviliun Seribu Bunga dilalap api. Api itu menjilat langit malam, membakar semua kenangan, semua cinta, semua kebencian. Hanya abu yang tersisa. Saat fajar menyingsing, Li Wei menunggang kuda, meninggalkan Pegunungan Yushan. Angin dingin bertiup, membawa serta bisikan kematian. Di tengah keheningan yang mencekam, dia berbisik pada dirinya sendiri, "Sekarang... siapa yang akan memaafkanku?" Dan senyum kecil, lebih mengerikan dari jeritan kematian, tersungging di bibirnya.
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Usaha Sampingan Online
Share on Facebook