## Aku Menggenggam Pedang Warisanmu, Tapi Bilahnya Menyebut Namamu Kabut menari di puncak Gunung Cangwu, serupa kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di sini, sepuluh tahun lalu, janji terucap di bawah rembulan purnama. Aku, Li Wei, dan dia, Bai Yan, terikat sumpah setia di bawah panji klan, sumpah yang ia khianati demi tahta. Kini, aku berdiri di hadapan pusaranya, batu nisannya yang dingin terasa seperti hatiku sendiri. Di tanganku tergenggam erat *Zhuque*, pedang pusaka klan Bai, pedang yang dulu ia ajarkan cara mengayunkannya. Dulu, Zhuque menari bersamanya, bilahnya memancarkan nyala matahari. Sekarang, dalam genggamanku, ia terasa berat, seolah menyimpan seluruh kesedihan dunia. Aku memejamkan mata. Aroma pinus dan tanah basah membawaku kembali ke malam itu. Bai Yan, dengan senyumnya yang menawan, berjanji akan selalu di sisiku, melindungi klan, dan mencintaiku *selamanya*. Kata-kata itu bagai racun manis yang merasuki tulang sumsumku. "Li Wei," desis suara serak di belakangku. Aku berbalik. Bai Lian, adiknya, berdiri di sana, matanya merah dan bengkak. "Kakak selalu menyebut namamu di saat-saat terakhirnya." Aku terdiam. Bai Lian melanjutkan, "Ia mengatakan... *penyesalannya terbesar* adalah membuatmu membencinya." Aku tertawa sinis. "Membencinya? Aku hanya membenci kebodohanku sendiri karena pernah mempercayainya!" Zhuque bergetar dalam genggamanku. Aku bisa merasakan energinya, amarahnya, dan... kesedihan. Bai Lian terisak. "Tahta itu... membuatnya berubah. Ia tak punya pilihan." "Pilihan?" Aku mengangkat Zhuque tinggi-tinggi. Cahaya pagi menari di bilahnya, memantulkan bayangan wajahku yang dingin. "Ia selalu punya pilihan. Ia memilih kekuasaan di atas janji, di atas *cinta*." Aku mendekat pada Bai Lian. "Apakah kau tahu, Lian'er, bahkan di saat-saat terakhirnya, ia masih mencoba menutupi kejahatannya? Ia memerintahkan agar semua bukti yang mengarah padanya dihilangkan. Ia ingin dikenang sebagai pahlawan." Mata Bai Lian membulat. Ia tahu, ia *selalu* tahu kebenaran di balik kematian para tetua klan. Kebenaran yang dikubur dalam-dalam oleh kakaknya. Aku menyarungkan Zhuque. "Namun, beberapa rahasia terlalu berat untuk dikubur. Kadang, *takdir* sendiri yang akan menggali kebenaran itu." Aku berbalik, meninggalkan Bai Lian yang terisak di dekat pusara kakaknya. Di kejauhan, aku melihat bendera kerajaan berkibar angkuh di atas gerbang Kota Kekaisaran. Bai Yan telah membangun kerajaannya di atas kebohongan dan pengkhianatan. Sekarang, takdir akan segera menagih hutangnya, bukan dariku, melainkan dari buah bibitnya. Di balik setiap kemenangan, akan selalu ada bayangan pedang yang menanti, bisikan nama di balik tirani, dan **api** cinta yang membara menjadi **dendam** abadi. _Apakah aku akan membiarkan kerajaannya hancur, atau membiarkannya menyadari betapa pahitnya hidup dalam penyesalan, dengan cinta yang takkan pernah bisa dimilikinya lagi?_
You Might Also Like: Reseller Skincare Fleksibel Kerja Dari
Share on Facebook