Cerpen Keren: Mahkota Yang Disembunyikan Di Balik Luka
Hujan gerimis merayapi Jendela Istana Timur, serupa air mata yang enggan tumpah. Di dalam, selimut sutra menutupi tubuh Ling Yue, Putri Mahkota yang berbaring lemah. Kulitnya pucat, matanya cekung, sisa-sisa keanggunan masih terpancar meski maut seperti menari-nari di sekelilingnya.
Di sisinya, Pangeran Zhan, mata elangnya yang dulu berkilat dengan ambisi, kini redup ditelan kepedihan. Rambutnya sedikit memutih, bahunya melorot menahan beban tak terperi. Dulu, ia menggenggam dunia, kini hanya bisa menggenggam jemari rapuh wanita yang terlambat disadarinya adalah separuh jiwanya.
"Yue'er," bisiknya, suaranya serak bagai gesekan batu. "Maafkan aku."
Ling Yue membuka mata perlahan. Secercah senyum pahit mengembang di bibirnya yang kering. "Jangan meminta maaf, Zhan Gege. Semua sudah terjadi. Anggap saja, ini... akhir dari sebuah drama yang panjang."
Dulu, ia mencintai Zhan sepenuh hati. Dulu, ia rela mengorbankan segalanya demi melihat senyumnya. Dulu, ia percaya pada JANJI yang diucapkannya di bawah pohon persik yang sedang bermekaran: kebersamaan abadi, selamanya.
Namun, ambisi membutakan Zhan. Ia menikahi Putri Negara Api untuk memperkuat kedudukannya. Ia mengkhianati cinta Ling Yue, menusuk hatinya dengan pedang ketidakpedulian. Ia membiarkan racun perlahan membunuhnya, sementara ia sibuk dengan intrik politik dan kekuasaan.
"Aku... Aku tahu aku mengecewakanmu," lanjut Zhan, suaranya bergetar. "Aku terlalu bodoh... terlalu dibutakan oleh tahta."
Ling Yue menarik napas dalam-dalam. "Tahta memang membutakan, Zhan Gege. Tapi, bukan itu satu-satunya alasan. Kau memilih, dan pilihanmu membawamu ke sini."
Zhan mencium tangannya, air matanya jatuh membasahi kulitnya yang dingin. "Aku bersumpah, jika aku bisa memutar waktu... aku akan melakukan segalanya berbeda!"
Ling Yue tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyakitkan dari pedang mana pun. "Waktu... tidak bisa diputar, Zhan Gege. Tapi, percayalah, takdir punya caranya sendiri untuk menyeimbangkan segalanya."
Beberapa saat kemudian, napas Ling Yue berhenti. Pangeran Zhan meraung, memeluk erat tubuh yang sudah tak bernyawa itu. Di luar, hujan semakin deras, seolah langit pun turut berduka.
Bertahun-tahun kemudian, Pangeran Zhan berhasil naik tahta, menjadi Kaisar yang disegani. Ia membangun dinasti yang kuat dan makmur. Namun, di balik kekuasaan dan kemegahan itu, ada bayang-bayang luka yang tak pernah sembuh.
Dan tahukah kau, para pembaca? Bahwa pewaris Tahta, yang dipilih Kaisar Zhan dengan cermat, adalah cucu dari selir yang dulu menjadi sahabat dan juga pendamping setia Ling Yue? Selir yang selalu diam-diam merekam segala perbuatan jahat dan kebohongan sang Pangeran?
Keadilan memang butuh waktu, kadang bahkan satu generasi, tapi ia selalu menemukan jalannya. Mahkota yang didambakan Pangeran Zhan, yang direnggut dari tangan Ling Yue, kini berada di tangan garis keturunan sahabatnya.
Dendam bukanlah jalan keluar, namun kadang, takdir punya cara yang lebih halus untuk menyajikan keadilan... dan di atas tahta yang kini diduduki cucu dari sahabat setia Ling Yue, cinta mungkin telah mati, tapi ingatan akan pengkhianatan akan terus abadi.
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Passive Income