Aku Mati Berkali-kali Untuk Cinta Ini, Tapi Cinta Ini Tak Pernah Mati
Sinyal berkedip-kedip seperti kunang-kunang sekarat di tengah kabut digital. Layar ponselku menampilkan "Sedang Mengetik…" selama berabad-abad. Aku, Aella, hidup di masa depan yang sudah lama usai. Gedung pencakar langit karatan menjulang seperti tulang belulang dinosaurus, dan debu sintetis menari dalam cahaya oranye senja abadi. Aku mencari Leo.
Di sisi lain retakan waktu, Leo merasakan hal yang sama. Aku tahu. Aku merasakannya lewat glitch di jaringan, lewat pesan-pesan terfragmentasi yang muncul dan hilang seperti mimpi. Leo hidup di masa lalu yang belum terjadi. Katanya, langitnya masih mengenal biru. Katanya, pepohonan masih berdansa diiringi angin. Katanya… ia masih HIDUP dengan utuh.
Kami bertemu di celah-celah itu. Di pesan suara yang patah, di foto buram yang hanya separuh menampilkan wajahnya. Kami bertukar cerita tentang dunia yang hilang. Aku menceritakan tentang autopilot yang memberontak, tentang kopi sintetis rasa nostalgia, tentang keheningan yang memekakkan telinga. Dia bercerita tentang konser musik di taman, tentang rasa cokelat panas yang hangat di lidah, tentang suara tawanya yang belum terkontaminasi distopia.
Aku mati berkali-kali untuk cinta ini. Secara harfiah. Setiap kali aku mencoba menembus portal temporal, tubuhku remuk, jiwaku tercabik. Tapi Leo selalu ada, menunggu di sisi lain. Ia akan mengirimkan pesan: "Aella, kamu tidak boleh menyerah. Aku akan menunggumu. Di setiap kehidupanmu."
Cinta kami absurd. Lebih absurd dari AI yang jatuh cinta pada kalkulator rusak. Lebih absurd dari pemerintah yang mendistribusikan oksigen rasa strawberry. Tapi cinta ini ada. Terukir dalam kode yang hilang, tersembunyi di antara sinyal yang berkedip.
Suatu hari, pesan Leo datang lebih jelas dari biasanya. Sebuah video singkat. Wajahnya. Senyumnya. Dan di belakangnya… reruntuhan. Gedung-gedung karatan yang familier. Langit oranye senja yang sama.
"Aella," bisiknya, suaranya pecah. "Aku… aku tahu di mana kamu berada. Kita tidak berada di masa lalu atau masa depan. Kita… kita berada di ANTARA. Kita berada dalam LOOP yang tak pernah selesai."
Kemudian layar menjadi hitam.
Dan aku mengerti. Cinta kami bukan tentang masa lalu atau masa depan. Cinta kami adalah ECHO. Gema dari kehidupan yang tak pernah benar-benar ada. Kita hanyalah fragmen, terjebak dalam drama yang ditulis oleh tangan yang sudah lama hilang.
Tapi tetap saja… aku mengirimkan pesan. Jari-jariku gemetar di atas layar retak.
"Leo… kamu masih di sana, kan? Walaupun semuanya palsu…"
You Might Also Like: Alasan Sunscreen Mineral Lokal Harga