Baiklah, ini dia, sebuah dracin tragis berjudul "Bayangan yang Tak Sempat Kulepaskan": **Bayangan yang Tak Sempat Kulepaskan** Hujan abu menari di atas Kota Terlarang, menyaksikan pertemuan dua sosok di Paviliun Angin Utara. Lin Wei dan Zhao Yun, tumbuh bersama sejak kecil. Lin Wei, dengan senyum sehangat matahari musim semi, dan Zhao Yun, setenang dan sedalam danau di malam hari. Saudara angkat, sahabat seperjuangan, tombak dan perisai Kekaisaran. Namun, di balik tawa dan loyalitas, tersembunyi jurang yang tak terduga. “Wei’er, anggur ini mengingatkanku pada malam kita memenangkan pertempuran di Sungai Huang,” kata Zhao Yun, matanya berkilat di balik cahaya rembulan. “Kau ingat, bukan?” Lin Wei tertawa, namun tawanya tak sampai ke mata. “Bagaimana mungkin aku lupa, *Gege*? Malam itu, kita berjanji akan selalu saling melindungi.” Permainan baru dimulai. Misteri dimulai ketika serangkaian pengkhianatan mengguncang istana. Rencana peperangan bocor, aliansi penting runtuh, dan Kaisar hampir terbunuh. Semua petunjuk mengarah pada satu nama: Lin Wei. Zhao Yun menolak mempercayainya. *Tidak mungkin*. Wei’er yang dikenalnya, yang berani mati untuk Kekaisaran, tak mungkin melakukan hal seperti itu. Namun, bukti-bukti terus bermunculan. Surat rahasia dengan segel keluarga Lin, saksi mata yang melihat siluetnya di tempat kejadian, dan yang terpenting, hilangnya pusaka Kekaisaran dari kamar Lin Wei sendiri. “Katakan padaku, Wei’er. Katakan bahwa ini semua bohong,” desak Zhao Yun, cengkeramannya di bahu Lin Wei terasa menyakitkan. Lin Wei menunduk, bayangan menutupi wajahnya. “Apakah kau benar-benar ingin tahu, Yun’er?” bisiknya. Setiap kata adalah permainan pisau. Kebenaran terungkap perlahan, seperti kelopak bunga layu yang jatuh satu per satu. Rahasia keluarga Lin. Kutukan yang menimpa setiap keturunan laki-laki. Satu-satunya cara untuk mematahkannya adalah dengan mengkhianati Kekaisaran. Lin Wei diperintahkan oleh *ayahnya*, yang juga mengkhianati Kekaisaran demi menyelamatkan nyawanya sendiri, untuk melanjutkan tradisi terkutuk itu. “Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu, Yun’er! Untuk menyelamatkan kita semua!” teriak Lin Wei, air mata mengalir di pipinya. "Aku tahu, aku TAHU! Bahwa kau akan menjadi kaisar yang HEBAT! Aku tidak ingin kutukan itu juga menimpamu!" Zhao Yun terdiam. Kebencian dan cinta bercampur aduk dalam hatinya. Dia merasa dikhianati, namun juga memahami pengorbanan Lin Wei. Pilihan ada di tangannya: menegakkan hukum Kekaisaran atau membiarkan sahabatnya hidup. Balas dendam yang tak terhindarkan. Di bawah tatapan rembulan yang dingin, Zhao Yun menghunus pedangnya. "Maafkan aku, Wei’er." Pedang itu menembus jantung Lin Wei. Saat nyawa Lin Wei meregang, dia tersenyum pahit. "Kau... selalu lebih kuat... dariku..." Zhao Yun jatuh berlutut, memeluk tubuh Lin Wei yang dingin. Dia telah melakukan apa yang harus dia lakukan, tetapi jiwanya hancur. *** Bertahun-tahun kemudian, Zhao Yun, sekarang Kaisar yang bijaksana dan dihormati, berdiri di depan makam Lin Wei. Dia meletakkan seikat bunga teratai putih, lambang persahabatan dan kesucian. “Aku berharap... aku berharap kau tahu... bahwa aku selalu mencintaimu... lebih dari Kekaisaran ini sendiri…” *Dan kutukan itu... belum sepenuhnya patah.*
You Might Also Like: Dracin Seru Aku Menatap Langit Yang

Share on Facebook