Baiklah, inilah kisah dracin tragis berjudul 'Ia Mencariku di Langit, Padahal Aku di Dadanya Sendiri', ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya yang Anda minta: **Ia Mencariku di Langit, Padahal Aku di Dadanya Sendiri** Angin musim gugur berbisik di Kota Terlarang, membawa aroma kenangan pahit antara aku dan Wei, sahabat sekaligus saudara angkatku. Dulu, kami berjanji setia di bawah pohon *maple* merah yang kini daunnya berguguran, menutupi jejak pengkhianatan. "Wei," bisikku suatu senja, menatapnya di antara lentera yang berpendar. "Apakah kau masih ingat janji kita?" Senyumnya, setenang permukaan danau yang dalam, tak mampu menyembunyikan keraguan di matanya. "Tentu saja, Lin. Janji adalah *harga mati*." Namun, janji itu seperti benang sutra yang rapuh, terputus oleh ambisi dan rahasia keluarga yang kami simpan rapat-rapat. Aku, Lin, pewaris garis keturunan terbuang, menyimpan dendam pada kaisar yang telah membunuh ayahku. Wei, yang kupercaya sebagai sekutuku, ternyata adalah *anjing* setia kaisar, terikat sumpah untuk melindunginya dengan nyawanya sendiri. "Kau tahu, Lin," ucap Wei suatu malam, sambil menuangkan arak ke cangkirku. "Keadilan itu seperti pedang bermata dua. Bisa melukai siapa saja, termasuk orang yang kau sayangi." Kata-katanya seperti *racun* yang perlahan merasuk ke dalam sumsum tulangku. Aku tahu, ada sesuatu yang disembunyikannya. Pertanyaannya adalah: sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenaran itu dariku? Misteri itu terkuak perlahan, bagai tirai sutra yang disingkap satu demi satu. Ibu kandungku, ternyata, adalah selir kesayangan kaisar yang dipaksa menjauhkanku demi melindungi posisinya. Dan Wei… Wei tahu segalanya sejak awal. Ia diperintahkan untuk mengawasiku, untuk memastikan bahwa dendamku tidak akan pernah menjadi ancaman bagi tahta. "Kau... KAU!" teriakku di malam badai, menghunus pedangku ke arahnya. Kilat menyambar, menerangi wajahnya yang penuh penyesalan. "Kau mengkhianatiku!" "Lin, dengarkan aku!" serunya, tangannya gemetar memegang pedang. "Aku melakukan ini untuk melindungimu! Jika kau tahu yang sebenarnya, hidupmu akan berada dalam bahaya!" Namun, amarahku sudah membutakan segalanya. Aku menyerangnya, dengan setiap ayunan pedang meneriakkan nama ayahku, nama ibuku, nama *semua* orang yang telah dikhianati. Pertarungan itu brutal, tanpa ampun, di bawah tatapan dingin langit malam. Di saat-saat terakhirnya, Wei tersenyum padaku, setenang dulu, di bawah pohon *maple*. "Kau... kau tidak pernah tahu... seberapa besar... aku mencintaimu..." Pedangnya jatuh, matanya terpejam. Aku berdiri di sana, berlumuran darah, di antara hujan yang semakin deras, akhirnya mengerti segalanya. Ia tidak pernah mengkhianatiku. Ia hanya mencoba melindungiku, dengan cara yang paling menyakitkan. *Balas dendamku telah selesai. Tapi, kebahagiaanku sudah lama mati.* Sebelum kegelapan menelanku sepenuhnya, satu kalimat terlintas di benakku: "Aku tidak pernah benar-benar membencimu, Wei, aku hanya benci kenyataan bahwa kita tidak bisa bersama."
You Might Also Like: 12 Enemies And Rivals Of Poseidon Who

Share on Facebook