Tentu, ini dia kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Bisikan yang Membunuh di Tengah Malam': **Bisikan yang Membunuh di Tengah Malam** Langit Shanghai malam itu kelabu, serupa dengan hatiku. Hujan gerimis menari-nari di jendela apartemen, memantulkan bayangan wajahku yang pucat. Di luar, gemerlap kota menyala, kontras dengan kegelapan yang menggerogoti jiwaku. Dia, Li Wei, pernah menjadi *matahariku*. Senyumnya, dulu, adalah candu. Pelukannya, dulu, adalah rumah. Janji-janjinya, dulu, adalah bintang yang membimbingku. Kini, senyum itu hanyalah topeng *menipu*. Pelukan itu terasa *beracun*. Janji-janji itu berubah menjadi *belati* yang menusuk jantungku berkali-kali. "Aku mencintaimu, Mei," bisiknya suatu malam, di bawah rembulan yang sama. Bisikan itu, kini, terngiang menjadi *bisikan yang membunuh* di tengah malam sepi ini. Aku, Mei Lan, pewaris tunggal keluarga Song, dikenal dengan ketenangan dan elegansi yang tak tertandingi. Namun, di balik gaun sutra berwarna *midnight blue* dan senyum tipis yang selalu menghiasi wajahku, tersembunyi luka menganga yang tak seorang pun tahu. Aku terluka, *teramat sangat*. Tapi, aku tidak akan membiarkan mereka melihatnya. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat kelemahan seorang Mei Lan. Aku menemukan kebenarannya secara tidak sengaja. Sebuah dokumen, sepucuk surat, sebuah *pengkhianatan* yang terencana dengan rapi. Li Wei, orang yang kupercaya sepenuh hati, ternyata hanya seorang bidak dalam permainan licik keluarga Zhang, rival bisnis keluarga Song. Ia mendekatiku untuk mendapatkan informasi, untuk menghancurkanku, untuk menghancurkan keluargaku. Rasa sakit itu *menyayat*. Tapi, aku tidak menangis. Aku tidak berteriak. Aku hanya diam, merencanakan balas dendam yang *manis* dan *pahit* sekaligus. Aku tidak akan membunuhnya dengan darah. Tidak. Aku akan membunuhnya dengan penyesalan. Perlahan, pasti, dan *abadi*. Aku mulai memainkan peranku. Aku tetap tersenyum, tetap memeluknya, tetap mendengarkan bisikan-bisikannya. Aku bahkan lebih manis dari sebelumnya. Aku membuatnya semakin percaya bahwa ia telah memenangkan hatiku sepenuhnya. Lalu, aku menjatuhkan bomnya. Di acara pertunangan kami yang megah, di hadapan ratusan tamu undangan, aku membongkar kebenaran. Aku membeberkan rencana licik keluarga Zhang, memperlihatkan bukti-bukti yang tak terbantahkan. Li Wei terdiam, wajahnya pucat pasi. Ia menatapku dengan *ketakutan* dan *penyesalan*. Keluarga Zhang hancur. Reputasi mereka tercoreng. Bisnis mereka bangkrut. Li Wei ditinggalkan, *sendirian* dan *terhina*. Aku pergi, meninggalkan mereka dalam kehancuran. Aku tidak merasakan kemenangan. Yang kurasakan hanyalah kehampaan. Luka itu masih ada, tapi tidak lagi menyakitkan. Aku telah membalas dendamku, tapi hatiku tetap *sepi*. Aku berjalan menjauh, meninggalkan Shanghai dan semua kenangan di belakangku. Aku tahu, Li Wei akan selalu dihantui oleh penyesalan atas apa yang telah ia lakukan. Ia akan selalu mengingat Mei Lan, wanita yang ia khianati, wanita yang menghancurkan hidupnya. Di bawah langit malam yang kelam, aku berbisik pada diri sendiri, "Aku memaafkanmu, Li Wei. Tapi, aku tidak akan pernah melupakanmu." Dan kemudian, keheningan. Cinta dan dendam, lahir dari tempat yang sama...
You Might Also Like: 5 Rahasia Arti Mimpi Memberi Makan

Share on Facebook