**Tahta Itu Berdarah Oleh Keheningan, Karena Tak Ada Lagi Yang Berani Menyebut Nama Kita** Senandung _guqin_ mengalun lirih di tengah malam. Cahaya rembulan membelai lembut dedaunan bambu yang berayun pelan, seolah ikut berbisik dalam kesunyian istana yang megah namun sunyi ini. Di teras paviliun yang dingin, aku berdiri, memandangi taman luas yang dulu penuh tawa, kini dipenuhi kenangan yang *berdarah*. Dulu, mereka memanggilku Pangeran Ning, putra kesayangan Kaisar. Dulu, aku bermimpi membangun negeri ini menjadi *surga*, bersama sahabat sekaligus saudaraku, Pangeran Zhao. Tapi, mimpi itu hancur berkeping-keping. Pengkhianatan. Kata itu bergaung dalam benakku setiap malam. Zhao, dengan senyum manisnya, merebut segalanya. Tahta. Kepercayaan Kaisar. Bahkan, cintaku. Mei Lian, wanita yang hatinya kupuja, kini menjadi Permaisuri Zhao. Aku *diam*. Bukan karena aku lemah, bukan karena aku takut. Aku diam karena aku tahu. Aku tahu rahasia yang akan menghancurkan bukan hanya Zhao, tapi seluruh Dinasti ini. Rahasia yang terukir dalam tulang, tersembunyi dalam aliran darah *Keluarga Kekaisaran*. Semua orang mengira aku telah menerima nasib. Mereka melihatku sebagai pangeran yang kehilangan segalanya, yang memilih mengasingkan diri dalam kesunyian. Tapi, aku mengamati. Aku menunggu. Setiap malam, aku memetik _guqin_, menciptakan melodi yang bukan hanya berisi kesedihan, tapi juga harapan. Aku menyelipkan pesan-pesan tersembunyi dalam setiap nada, mengirimkannya ke telinga-telinga yang setia dan terpercaya. *Ada sesuatu yang aneh*. Sejak Zhao naik tahta, panen selalu gagal. Sungai-sungai mengering. Rakyat menderita. Dokter istana tak mampu menjelaskan wabah aneh yang melanda. Zhao semakin paranoia, semakin kejam. Dia menyalahkan para menteri, memenjarakan mereka, bahkan membunuh mereka. Aku tahu penyebabnya. Aku tahu *kutukan* itu. Kutukan yang hanya bisa dihentikan dengan satu cara: *mengembalikan keseimbangan*. Keseimbangan yang telah dirusak oleh pengkhianatan dan perebutan tahta yang tidak sah. Mei Lian, meskipun menjadi Permaisuri, matanya selalu menyimpan kesedihan yang dalam. Suatu malam, dia datang menemuiku. Wajahnya pucat, tangannya gemetar. "Ning," bisiknya lirih, "Dia… dia bukan keturunan Kaisar." Kata-kata itu bagai petir menyambar. Ternyata, Mei Lian pun tahu. Zhao, yang selama ini diagung-agungkan sebagai pewaris sah, adalah hasil perselingkuhan ibunya dengan seorang jenderal rendahan. Kutukan itu bekerja. Darah palsu di tahta akan membawa kehancuran. Aku tersenyum tipis. Balas dendamku telah hadir. Bukan dengan pedang, bukan dengan intrik. Tapi dengan kebenaran. Kebenaran yang akan membakar Zhao dari dalam. Tak lama kemudian, rakyat bangkit. Mereka tahu. Bisikan kebenaran telah menyebar seperti api di padang rumput kering. Istana dikepung. Zhao, dalam kepanikan, bunuh diri. Dinasti itu hancur. Bukan karena aku. Tapi karena keserakahan dan kebohongan. Aku berdiri di antara reruntuhan istana, _guqin_ di tanganku. Aku tidak merebut tahta. Aku tidak ingin kekuasaan. Aku hanya ingin keadilan. Keadilan yang akhirnya tiba, meskipun dengan harga yang sangat mahal. Malam semakin larut. Rembulan bersinar semakin terang. Aku memetik _guqin_ sekali lagi, menciptakan melodi terakhir. Melodi perpisahan. Mereka telah memanggilku Pangeran Ning, namun aku pergi tanpa nama. *Dan keheningan yang mengikuti namaku itu, ternyata lebih berdarah dari peperangan yang paling dahsyat sekalipun…*
You Might Also Like: Image Collection

Share on Facebook