Baiklah, inilah kisah dracin dengan nuansa takdir, reinkarnasi, dan dendam yang terbungkus dalam keheningan: **Aku Menunggumu di Altar, Tapi Waktu Menelan Janji Kita** Seratus tahun berlalu bagai debu yang ditiup angin. Seratus musim semi menyuburkan kembali tanah yang pernah ternoda. Di kehidupan ini, aku adalah Lin Mei, seorang pelukis yang terobsesi dengan bunga plum, bukan hanya karena keindahannya, tapi karena _bisikan_ yang kurasakan setiap kali menyentuh kelopaknya. Bisikan tentang janji. Bisikan tentang _dia_. Suatu hari, di galeri seni kuno, mataku terpaku pada sebuah guci porselen. Bukan karena keindahannya, tapi karena sentuhan aneh di hatiku. Di sana, terpahat bunga plum yang sangat familiar, sama seperti yang sering kupelukis. Saat itulah, aku bertemu dengannya. Jiang Wei. Tatapan matanya bagai cermin yang memantulkan seratus tahun silam. Ada kesedihan, kelelahan, dan sesuatu yang… _familiar_. Kami seperti dua keping puzzle yang hilang, mencoba menyatu kembali setelah terlempar badai. Pertemuan kami bukan kebetulan, aku tahu itu. Takdir, itulah yang mengikat kami. Perlahan, kepingan-kepingan masa lalu mulai bermunculan. Mimpi-mimpi aneh tentang taman luas dengan pohon plum yang bermekaran di musim dingin. Suara seruling yang merdu, dimainkan di bawah rembulan pucat. Dan yang paling menyakitkan, adegan di altar, di mana aku, mengenakan gaun pengantin merah, menunggunya… tapi dia tak pernah datang. "Aku menunggumu," bisikku suatu malam, saat kami duduk berdua di bawah pohon plum yang sedang mekar. "Dulu. Dan sekarang." Jiang Wei menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku… aku ingat," jawabnya lirih. "Aku ingat janji itu, Mei. Tapi…" Lalu, kebenaran pahit itu terungkap. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah putri bangsawan, dijodohkan dengan seorang jenderal. Dia, Jiang Wei di masa lalu, hanyalah seorang prajurit rendahan yang berani mencintaiku. Cinta kami terlarang, dihukum oleh kekuasaan dan tradisi. Malam sebelum pernikahan, kami berjanji untuk melarikan diri. Tapi dia dikhianati. Ditangkap, dituduh berkhianat, dan dieksekusi di depan mataku. Aku terpaksa menikah, hidup dalam kesengsaraan hingga akhir hayat. _Janji kita ditelan waktu._ Dia dikhianati oleh sahabatnya sendiri, yang menginginkan kekuasaan dan cintaku. Sahabat yang kini… adalah ayah Jiang Wei. Dendam? Tentu saja aku merasakannya. Kemarahan? Siapa yang tidak marah setelah seratus tahun menyimpan luka? Tapi, aku memilih jalan lain. Aku mendekati ayah Jiang Wei, bukan dengan amarah yang membara, tapi dengan senyuman yang dingin. Aku menceritakan kisah masa lalu kami, kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang janji yang dilanggar. Dia terkejut, terpukul. Penyesalan menghantuinya. Tapi sudah terlambat. Kebenaran itu bagai racun yang perlahan membunuhnya. Dia kehilangan segalanya: kekuasaan, reputasi, dan yang terpenting, putranya. Aku membalas dendam bukan dengan pedang, tapi dengan keheningan. Dengan pengampunan yang menusuk. Aku membiarkan dia hidup dengan rasa bersalah yang tak berkesudahan. Di akhir cerita, aku dan Jiang Wei berdiri di bawah pohon plum yang sama, seratus tahun setelah janji itu diucapkan. Kami tidak menikah. Kami tidak memulai kehidupan baru yang penuh kebahagiaan. Kami hanya berdiri di sana, dalam keheningan, mencoba memahami takdir yang mengikat kami. "Apakah kau memaafkanku?" tanya Jiang Wei, suaranya bergetar. Aku menatap matanya. "Kau tidak bersalah," jawabku. "Kau hanya korban dari masa lalu." Aku memaafkannya. Aku memaafkan dirinya sendiri. Tapi, aku tidak bisa melupakan. Aku meninggalkan Jiang Wei, pergi jauh dari kota itu. Aku tahu, luka masa lalu akan selalu membekas. Tapi, aku juga tahu, aku telah melakukan apa yang harus kulakukan. Aku kembali melukis bunga plum. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada _kedamaian_ dalam setiap goresan kuas. Di malam hari, aku bermimpi. Aku melihat diriku di altar, mengenakan gaun pengantin merah. Tapi kali ini, dia ada di sana. Menungguku. _"...Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya..."_
You Might Also Like: Jual Skincare Untuk Ibu Hamil Dan
Share on Facebook